Print ...

Kontributor...

  • Hartoyo, SriAndati, Trias, Editor: Perpustakaan MB-IPB

Download...

Path: TopTesisManajemen Keuangan

Analisis model tiga faktor dan pengaruh krisis terhadap return saham sektor pertanian di bursa efek indonesia

Three Factor Model Analysis and Effect of Crisis to Stock Return in Agriculture Sector at Indonesia Stock Exchange

Master Theses from MBIPB / 2017-12-18 00:19:33
Oleh : Wibowo, Ednan Setryawan, Manajemen dan Bisnis -Institut Pertanian Bogor
Dibuat : 2014-02-20, dengan 5 file

Keyword : Agriculture, Data Panel, Indonesia Stock Exchange, Three Factor Model Fama-French Bursa Efek Indonesia, Model Tiga Faktor Fama-French, Panel Data, Sektor Pertanian
Subjek : MANAJEMEN KEUANGAN
Nomor Panggil (DDC) : 10(47)Wib a
Url : http://repository.mb.ipb.ac.id

Krisis finansial global yang melanda dunia ikut mempengaruhi kondisi pasar modal. Pada penutupan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia di akhir bulan Desember 2008, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada level 1,355.4 atau turun hampir 50% dari level pada awal tahun 2008 yakni sebesar 2,627.3. Kondisi ini juga bersamaan dengan turunnya nilai kapitalisasi pasar dan volume perdagangan saham sehingga otoritas BEI menghentikan perdagangan (blackout) pada Oktober 2008. Krisis finansial global juga menyebabkan nilai tukar rupiah sejak Oktober 2008 juga mengalami depresiasi tajam hingga


mencapai level Rp 10,900/USD pada akhir Desember 2008.


Sektor-sektor yang terkena dampak krisis finansial global adalah sektor yang mengandalkan permintaan eksternal (tradeable), salah satunya yaitu sektor pertanian. Indeks saham sektor pertanian (ISP) dan IHSG sepanjang tahun 2006 hingga tahun 2012 berfluktuatif. Semenjak 2006 hingga 2007, IHSG dan ISP mengalami peningkatan (bullish) masing-masing sebesar 52.08% dan 126.09%.


Namun pada tahun 2008, IHSG dan ISP mengalami penurunan (bearish) masingmasing sebesar 50.64% dan 66.65%. Hal ini terjadi sebagai dampak krisis krisis finansial global global 2008. Pasca krisis 2008, IHSG mengalami bullish hingga tahun 2012. Sedangkan kondisi ISP hanya mengalami bullish pada tahun 2009 dan 2010. Perkembangan ISP yang berfluktuatif juga tercermin dari pergerakan return saham-saham pada sektor pertanian. Selama tahun 2006-2008, 2010 dan 2012, rata-rata saham-saham pada sektor pertanian menghasilkan return yang positif. Pada tahun 2009 dan 2011 saham-saham pada sektor pertanian menghasilkan return yang negatif.


Adanya fluktuasi indeks saham dan return saham sektor pertanian ini menuntut para investor harus berhati-hati dalam menanamkan modalnya. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh investor adalah dengan menggunakan model tiga faktor yang diperkenalkan oleh Fama dan French (1995) untuk mengestimasi return dari saham. Model ini merupakan model yang dikembangkan untuk menjawab keterbatasan dari teori Capital Asset Pricing Model (CAPM) yang mengasumsikan pasar dalam kondisi yang ekuilibrium dan efisien. Penelitian Fama dan French (1993) menyimpulkan bahwa size dan book to market ratio mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat return saham-saham di Amerika Serikat. Oleh karena itulah, pada tahun 1995 Fama dan French memperkenalkan three factors model yang merupakan modifikasi CAPM dengan menambahkan dua faktor, yaitu size dan book to market ratio.


Penelitian-penelitian terdahulu mengenai kemampuan model tiga faktor dalam memprediksi return di Bursa Efek Indonesia pernah dilakukan, yaitu pada sektor industri properti dan real estate dan pada semua emiten IHSG. Namun secara khusus untuk sektor pertanian yang memiliki tingkat return berfluktuasi belum dilakukan penelitian. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah (1) menganalisis perkembangan peubah-peubah dari model tiga faktor; (2)


mengetahui pengaruh peubah-peubah bebas pada model tiga faktor terhadap return saham sektor pertanian di Bursa Efek Indonesia pada periode 2006-2012.


Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa harga penutupan, jumlah saham yang beredar, indeks sektoral, suku bunga Bank Indonesia (BI rates) pada setiap


akhir bulan, serta nilai book equity (BE). Objek dalam penelitian berjumlah 8 emiten sektor pertanian yang telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak tahun


2006 sampai dengan tahun 2012. Pengolahan data terdiri dari analisis deskriptif, pengujian asumsi klasik, analisis regresi berganda terhadap peubah-peubah pada


model tiga faktor. Penelitian ini menggunakan dua model tiga faktor yaitu (1) model tanpa dummy krisis dan (2) model dengan dummy krisis. Kedua model tiga


faktor ini dianalisis secara statistik dengan regresi berganda menggunakan data panel pada piranti lunak E-Views.


Sepanjang tahun 2006 hingga tahun 2012, annualized return Indeks Sektoral Pertanian (ISP) mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Adanya krisis finansial global pada tahun 2008 menyebabkan annualized return ISP mengalami penurunan yang melebihi annualized return IHSG. Fluktuasi ISP juga terlihat dari hasil perhitungan tingkat risiko (standar deviasi). Secara umum tingkat risiko ISP lebih besar daripada IHSG selama tahun 2006-2012.


Perkembangan peubah-peubah dalam model tiga faktor, yaitu excess return (kelebihan dari return yang sesungguhnya terjadi terhadap normal return), market ISP (return ISP yang terjadi terhadap nilai risk free) dan market IHSG (return IHSG yang terjadi terhadap nilai risk free), serta SMB (selisih rata-rata return dari emiten-emiten yang memiliki nilai kapitalisasi pasar yang kecil terhadap rata-rata return dari emiten-emiten yang memiliki nilai kapitalisasi pasar yang besar) pada saham-saham sektor pertanian selama 2006-2012 berfluktuatif dan sebagian besar memiliki nilai yang negatif. Peubah HML (selisih rata-rata return dari emitenemiten yang memiliki book to market ratio tinggi terhadap rata-rata return dari emiten-emiten yang memiliki book to market ratio rendah) pada emiten-emiten sektor pertanian selama 2006-2012 berfluktuatif dan sebagian besar memiliki nilai return yang positif.


Pengujian multikolinearitas dengan analisis Variance Inflation Factor (VIF) menunjukkan bahwa kedua model tidak mengalami permasalahan multikolinearitas. Pengujian autokorelasi dengan Durbin-Watson menunjukkan bahwa Model 1 mengalami autokorelasi positif dan Model 2 mengalami


autokorelasi negatif. Pengujian heteroskedastisitas dengan Park Test menunjukkan bahwa kedua model tidak mengalami permasalahan heteroskedastisitas. Pada pengujian metode pengolahan regresi berganda diketahui bahwa kedua model menggunakan model random effect. Hasil regresi berganda


menunjukkan peubah market dan SMB berpengaruh signifikan dan positif pada kedua model. Peubah HML tidak berpengaruh signifikan dan negatif pada kedua model. Peubah dummy krisis tidak berpengaruh signifikan dan negatif di model 2. Implikasi dari penelitian ini yaitu saham-saham sektor pertanian dapat menjadi salah satu alternatif bagi para investor untuk berinvestasi secara longterm horizon. Saham-saham pada perusahaan yang berkapitalisasi kecil dapat menjadi salah satu alternatif bagi para investor yang cenderung berorientasi growth investing karena akan memberikan return yang lebih tinggi.

Deskripsi Alternatif :

The global financial crisis that hit the world influenced to the capital markets. At the closing of the shares transaction in the Indonesia Stock Exchange in the end of December 2008, the Jakarta Composite Index (JCI) was at the level 1,355.4, down nearly 50% from the level at the beginning of 2008 amounted 2,627.3. This condition coincides with the decline in the value of market capitalization and trading volume of the stock so that IDX authorities suspended trading (blackout) in October 2008. The global financial crisis also led to the exchange rate since October 2008 also depreciated sharply to reach a level of Rp 10,900 / USD at the end of December 2008. The sectors affected by the global financial crisis is a sector that relies on external demand (trade able), one of them is agriculture. Agriculture sector index (ISP) and JCI during 2006 through 2012 fluctuated. From 2006 to 2007, JCI and the ISP has increased (bullish) each by 52.08% and 126.09%. But in 2008, JCI and ISP decline (bearish) each by 50.64% and 66.65%. This occurs as a result of the 2008 global crisis. After the crisis of 2008, JCI bullish until 2012. While the ISP only having bullish conditions in 2009 and 2010. The development of ISP is also reflected that in the fluctuating movement of stock returns in the agriculture sector. During 2006-2008, 2010 and 2012, the average shares in the agriculture sector generate positive returns. In 2009 and 2011 shares in the agriculture sector generate a negative return. The fluctuation in the stock index and stock returns in agriculture sector is demanding investors should be cautious in making an investment. One way that can be done by investors is to use a three factor model introduced by Fama and French (1995) to estimate stock returns. This model is a model that was developed to address the limitations of the theory of Capital Asset Pricing Model (CAPM), which assumes that equilibrium conditions in the market and efficiently. Research Fama and French (1993) concluded that the size and book to market ratio has a significant effect on the rate of return of stocks in the United States. Therefore, the Fama and French 1995 introduces three factor model, which a modified CAPM model by adding two factors, size and book to market ratio. Previous studies on the ability of three-factor model in predicting returns in the Indonesia Stock Exchange (IDX) ever done, i.e. in the sectors of property and real estate industry and on all issuers JCI. But specifically for the agriculture sector, which has a fluctuating rate of return has not done the research. Therefore, the purpose of this study was (1) to analyze the variables of the three-factor model, (2) to know the effect of independent variables on the three factor model of stock returns in the agriculture sector at Indonesia Stock Exchange during the period 2006-2012. This study used secondary data from the closing price, number of shares outstanding, sectoral index, interest rate of Bank Indonesia (BI rates) at the end of each month, and book value of equity (BE). Objects in the study were 8 issuers of agriculture sector that have listed on the IDX from 2006 until 2012. Data processing consisted of descriptive analysis, the classical assumption test, and multiple regression analysis of the variables in the three factor model. This study uses two three-factor models i.e. (1) a model without a crisis dummy and (2) a model with a crisis dummy. Both the three-factor models were statistically analyzed by multiple regressions using panel data on software E-Views. During 2006 through 2012, annualized return Agriculture Sector Index (ISP) having significant fluctuations. The global economic crisis in 2008 led to an annualized return ISP more decreased than annualized return JCI. A fluctuation ISP is also evident from the results of the calculation of the level of risk (standard deviation). In general, the risk of ISP is greater than JCI during the year 2006- 2012. Development of variables on the three factor model, i.e. excess return variables (excess of returns actually happens against the normal return), ISP market (ISP return happens against the risk free) and JCI market (JCI return happens against the risk free), and the SMB (the difference between the average return of issuers that have a small market capitalization against the average return of issuers that have a market capitalization of large) in agriculture sector during 2006-2012 fluctuated and most have a negative value. HML (the difference between the average return of issuers that have high book to market ratio against the average return of issuers that have low book to market ratio) variables in agriculture sector during 2006-2012 fluctuated and most have a positive value. Multicollinearity testing with analysis of Variance Inflation Factor (VIF) showed that both models do not have problems of multicollinearity. Testing autocorrelation with Durbin-Watson showed that Model 1 had a positive autocorrelation and Model 2 had negative autocorrelation. Testing heteroscedasticity with Park Test showed that both models do not have problems of heteroscedasticity. In the testing of multiple regression processing method known that both models using a random effects model. The results of multiple regression showed variable market and SMB significant and positive effect on both models. HML variable is not significant and negative effect on both models. Crisis dummy variable is not significant and negative effect on the Model 2. The implication of this research is agriculture sector stocks could be an alternative for investors to invest in a long-term horizon. Shares in small capitalization companies may be an alternative for investors who tend to be growth-oriented investing because it will provide higher returns.

Copyrights : Copyright � 2001 by School of Business - Bogor Agricultural University (SB IPB). Verbatim copying and distribution of this entire article is permitted by author in any medium, provided this notice is preserved.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherMBIPB
OrganisasiManajemen dan Bisnis -Institut Pertanian Bogor
Nama KontakPerpustakaan sB-IPB
AlamatGed. SB-IPB, Jl. Raya Pajajaran
KotaBogor
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon+62 251 8313813
Fax+62 251 8318515
E-mail Administratorperpus{at}mma.ipb.ac.id
E-mail CKOadmin{at)mb.ipb.ac.id